Rabu, 27 Februari 2008

WALIMA

Dimana?
1750 BUBOHU berdiri dan setelah melewati sejarah yang panjang masyarakat Gorontalo lebih mengenalnya sebagai Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo.

Perjalanan dari pusat kota Gorontalo bisa ditempuh dengan waktu + 20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, jalan yang berliku-liku dan melewati gunung di pesisir pantai Teluk Tomini membuat perjalanan setiap orang dipenuhi keindahan alam yang luar biasa.

Desa ini berbatasan dengan Kota Gorontalo yaitu Kelurahan Tanjung Kramat Kota Selatan. Perjalanan dari pusat kota Gorontalo bisa ditempuh dengan waktu + 20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, jalan yang berliku-liku dan melewati gunung di pesisir pantai Teluk Tomini membuat perjalanan setiap orang dipenuhi keindahan alam yang luar biasa.

Sampai dengan tahun Delapan puluhan, akses ke desa ini hanya dapat ditempuh melalui laut dari pelabuhan Gorontalo atau jalan kaki melewati Kelurahan Pohe kota Selatan, Kelurahan Donggala dan Potanga Kota Barat Kota Gorontalo.

Masyarakatnya?

Desa yang pada tahun 2007 berpenduduk + 3.200 jiwa atau + 850 KK menyebar di 5 (lima) dusun yaitu:

Dusun Timur
Dusun Tengah
Dusun Barat
Dusun Tenilo
Dusun Wapalo


Mayoritas penduduk desa ini adalah nelayan dan perantau kecuali dusun Tenilo dan Wapalo sebahagian besar adalah petani dan penambang batu alam. Masyarakat nelayan desa ini menjadi nelayan pemburu ikan tuna sampai Molibagu Bolaang Mongondow, Bitung, Maluku, Sorong, Flores, Majene, Sulawesi Barat dan sebahagian pulau-pulau di Sulawesi Tengah, juga wilayah-wilayah lain di propinsi Gorontalo seperti Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah buruan mereka secara turun-temurun bahkan banyak yang sudah menetap jadi penduduk daerah itu.

Bagi perantau yang berpendidikan memilih menjadi pegawai negeri sipil, guru, dosen, dan pedagang.


BUDAYANYA ?


*Inilah yang unik
*Memiliki sejarah yang panjang
*Melahirkan banyak pembicaraan dan diakui masyarakat luas
*Tampil di Istana Negara & Islamic Centre Jakarta
*Sarana penunjang
*Potensi wisata
*Aset yang tak ternilai
*Warisan yang selalu jadi kebanggaan
*Suasana yang mengharukan yang selalu ditunggu-tunggu


WALIMA

Andai kau tau .......................
Betapa rindu selalu menyapa dalam memori-memoriku
Kugambar, kutulis, kunyanyikan dalam alunan zikirnya
Dia tidak mudah kulupa
Dalam hitungan apapun
Dan karena rasa syukurku pada Allah
Kuikhlas menghitung kapan tiba saatnya
Kulihat lagi sebuah karya
Kudengar lagi syair-syair indah dalam alunan ketulusan
Aku gemetar dalam detik-detik yang panjang pada peringatan
Kelahiran Nabiku. Nabi Besar Muhammad S.A.W.
Walima kubuat, kupasang, kubawa dalam kebahagiaan dan keikhlasan karena cinta pada Rasulku, Nabiku, utusanMu, ya Allah.
Yotama 2007


SMS untuk teman-teman wartawan :

HARSON Harian Tribun Gorontalo

Assalamualaikum wwb …………………………..

Saudaraku Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tidak lama lagi ………. Tanggal 31 Maret dan 1 April 2007 di desa Bongo, kecamatan Batudaa Pantai, kabupaten Gorontalo akan berlangsung perayaan itu secara besa-besaran dengan pembuatan “walima” setiap tahunnya secara kolosal diperkirakan tahun ini bisa mencapai diatas 500.000 biji kolombengi (kue tradisional) akan diusung ke masjid, tahun 2005 “walima“ dari bongo ini kami tampilkan diistana Negara dihadapan duta–duta besar, peristiwa–peristiwa budaya seperti ini selain dilestarikan juga perlu bantuan dari saudaraku untuk dikenal masyarakat lokal lewat media agar dia tetap bertahan dalam kondisi apapun dan menjadi aset utama dalam mengembangkan pariwisata sehingga kelestariannya dapat menjadi bagian dari potensi ekonomi pedesaan… Terima kasih.


Pepen harian Gorontalo Post


Budaya mudik ala orang Bongo Batudaa Pantai

Gorontalo:
Entah mulai kapan budaya (kebiasaan) mudik masyarakat Indonesia berawal, yang jelas setiap tahun kita dipertontonkan suatu pergerakan massal dari masyarakat Indonesia menuju kampung halamannya dari perantauan dan ini bisa kita tebak peristiwa tahunan yang menghebohkan itu selalu menjadi berita menjelang Hari Raya Idul Fitri, juga bagi masyarakat Gorontalo mudik juga bisa kita lihat dari penuhnya kursi pesawat dari Jakarta Makassar menuju Gorontalo, juga melalui darat dari Palu dan Manado, belum melalui laut. Dan begitulah setiap tahunnya. Tapi istilah mudik bagi masyarakat Bongo Batudaa Pantai tidak dikenal di bulan puasa (Ramadhan) justru terjadi disetiap bulan Rabiul awal tahun Hijriah tepatnya 12 Rabiul Awal yang peristiwa ini di Indonesia oleh kaum muslim dikenal dengan Maulid Nabi (memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW) bagi masyarakat Bongo inilah peristiwa tahunan yang ditunggu-tunggu maka siapapun dia yang merasa ada hubungan kekerabatan dengan orang Bongo akan melaksanakan mudik ala orang Bongo ini, pada tahun ini peringatan Maulid Nabi jatuh pada tanggal 31 Maret. Bongo desa kecil yang dihuni oleh hampir separuhnya adalah nelayan lepas di Mobilagu, Bitung, Maluku, Sorong bahkan Flores (NTT) dipastikan akan balik (mudik) membawa hasil untuk satu perayaan dengan berzikir di lima (5) Masjid dan membuat walima yang tahun ini diperkirakan akan diisi dengan kue kolombengi mancapai sekitar 500.000 biji kue. Bongo selama tiga (3) hari berturut-turut dari tanggal 31 Maret s/d 2 April akan dipenuhi perantau dan masyarakat Gorontalo yang tiap tahunnya turut larut dalam perayaan besar dengan iringan DOA ZIKIR DAN PARADE WALIMA secara Kolosal menuju masjid yang pada hari Minggu menjadi puncaknya.

Setelah selesai perayaan besar ini BONGO kembali sepi, para pemudik kembali ke perantauan berharap dan berdoa untuk kembali dalam rinduan suasananya TAHUN DEPAN ….. MUDIK-MUDIK ITULAH BUDAYA DALAM KERINDUAN DAN KECINTAAN MASYARAKAT BONGO TERHADAP NABI BESAR MUHAMMAD SAW ……………………………….
(Yotama) Maret 2007.


Inilah yang Unik !

Dalam masyarakat Bongo pada peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW ADA DUA HAL YANG MENJADI PEMBICARAAN MASYARAKAT, ini juga berlaku sama bagi masyarakat Gorontalo pada umumnya, hanya bagi masyarakat Bongo ini menjadi spesial dan selalu menjadi menarik untuk dibicarakan karena perlu kesiapan yang matang.

1. WALIMA:
Walima dalam bahasa Arab yang artinya perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan apa adanya.

Bagi masyarakat Bongo, Walima adalah hasil karya seni tinggi yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.

Bentuk-bentuk walima di Bongo :


Bagian-bagian dalam Walima:


a. TOLANGGA
Bamboo / Rotan
Rotan
Kayu

Tolangga terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun, disimpan oleh masyarakat Bongo untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.


b. KERTAS WARNA
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.



c. BENDERA
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.

Contoh- contoh:
Bendera besar Bendera Kecil














d. KOLOMBENGI
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima dari Bongo.

e. TUSUK KUE
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.

f. PLASTIK
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. LILINGO
Terbuat dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut – asap, kue basah, dll.

h. MAKANAN
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.


2. TUNUHIO
Dalam bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat maulid di Bongo bila ditota bisa puluhan juta dan dibagikan kepada pezikir yang datang dari luar Bongo untuk mengganti transportasai dll.

3. DIKILI

Dikili dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid di Bongo para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya bisa menjadi 500 orang bahkan dari Bolaang Mongondow & Sulawesi Tengah juga ada, mereka biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam. Irama zikir yang khas ini membuat orang Bongo diperantauan menikmatinya dengan penuh kerinduan dan berdoa semoga Allah dapat memberinya umur panjang untuk dapat kembali ke desa ini tahun berikutnya.


Semangat Walima, Tunuhio & Dikili

Tuk Suatu Perayaan karena kecintaan, masyarakat desa ini dikenal ulet dan pantang menyerah seperti kokohnya walima dalam arakan yang penuh dengan doa-doa.

Memiliki sejarah yang panjang
Tulisan berdasarkan Nurdin Hamzah & Ibrahim Pateda sesuai penuturan orang-orang tua.

SEJARAH WALIMA DI DESA BONGO
Walima berasal dari bahasa arab yang artinya perayaan, sehingga walima di desa bongo identik dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tiap tahun. Sejarah walima hampir bersamaan dengan sejarah Desa Bongo karena sejak terbentuknya pemerintahan di Desa Bongo tahun 1750 perkembangan agama islam dan dibarengi dengan tingkat penghidupan ekonomi masyarakat yang cukup baik, faktor ini yang mendorong masyarakat pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berusaha membuat Walima. walima yang dibuat masyarakat adalah wujud nyata kecintaan pada Nabi Muhammad SAW dan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rejeki kepada hambanya.
Pada awalnya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan dirumah-rumah penduduk karena sarana ibadah pada saat itu belum ada. Perayaan Maulid Nabi diadakan dalam bentuk zikir bersama selama satu malam, siangnya dilanjutkan dengan salawat dan doa kepada Nabi Muhammad SAW, serta memohon kepada Allah SWT semoga masyarakat Desa Bongo selalu dalam lindungan-Nya dan dimurahkan rejeki, dijauhkan dari bencana.
Pada masa Pemerintahan HILALUMO AMAY Tahun 1750 sampai dengan Tahun 1792, Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan secara sederhana tetapi tidak mengurangi hikmahnya dan dari sinilah awal mulanya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Desa Bongo.
Pada pertengahan abad ke-19, para ulama dan tokoh masyarakat dan pemerintahan pada saat itu mendirikan sebuah masjid sederhana sebagai tempat ibadah, masjid tersebut berfungsi juga sebagai tempat kegiatan lainnya seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Walima merupakan bagian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mulai dari perubahan setelah berdirinya masjid, makanan yang seperti nasi, ikan, ayam goreng, kue (kukis) dan buah-buahan serta hasil pertanian diantar ketempat perayaan Maulid hanya dengan menggunakan dedaunan dan keranjang dan diatur sedemikian rupa sehingga kelihatan menarik dan bersih. atas kesepakatan tokoh agama, tokoh adat dibuat wadah atau tempat yang diberi nama LILINGO. LILINGO artinya bulat bentuknya seperti loyang terbuat dari daun kelapa yang masih muda.
Pada awal abad ke-20 secara gotong royong masyarakat, tokoh agama dan pemerintah membangun sebuah masjid yang permanen dan selesai pada tahun 1927 yang diberi nama masjid AT-TAQWA.
Tahun 1927 pada masa pemerintahan HASAN PATEDA perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW semakin meriah, LILINGO yang bentuknya sederhana dilengkapi dengan kue (Kukis) dan telur masak ditusuk dengan bambu yang telah diraut dengan bersih kemudian ditancapkan di permukaan LILINGO diberi nama TOYOPO (Tutu-tutupo Woyo-woyopo).
Pada tahun 1937 pada masa pemerintahan BUKE PANAI pemerintah Desa membuat TOYOPO yang besar dan diletakkan pada suatu tempat (wadah) yang terbuat dari bambu kuning, wadah tersebut membentuk bujur sangkar menyerupai kaki meja dan dibawahnya ada lantai terabuat dari bambu dibelah kecil-kecil (Tototahu), kemudian dihiasi dengan bendera warn-warni serta tulisan-tulisan yang artinya erat sekali hubungannya dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. TOYOPO yang dihiasi tadi diberi nama TOLANGGA LOPULUTO (Walima Lopuluto). TOLANGGA LOPULUTO (Walima Lopuluto) diantar ke Masjid dengan tarian Langga sampai dihalamam Masjid.
Selesai Doa, Walima Lopuluto diantar ke Pejabat atau ke Pemimpin Agama (KADLI) dan yang lain diberikan kepada para Pezikir dan Undangan.
Walima Lopuluto bukan merupakan persembahan kepada pejabat melainkan adalah bentuk hubungan baik antara pemerintah dengan rakyat dan anatara atasan dan bawahan. Walima Lopuluto dibagikan kepada Keluarga, Tetangga, Anak Yatim Piatu, Fakir Miskin oleh pejabat yang menerima Walima tersebut.
Walima Lopuluto bukan Walima HE PUPULUTALIYO (Diperebutkan) melainkan Walima HE PULUTOLIYO (Diambil Sedikit-sedikit ) dan diberikan kepada orang yang menerima.
Nama Walima mulai memasyarakat di Desa Bongo pada tahun 1937 memasuki era Tahun 1970-an, setiap kepala keluarga berusahan membuat Walima sesuai dengan kemampuan masing-masing, serta kualitasnya ditingkatkan utamanya isi Walima itu sendiri seperti kue (Kukis). Dulunya kue basah diganti dengan kue kering yang dikenal dengan nama kue Kolombengi dan jumlahnya juga sudah meningkat.
Tahun 1980-an perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah semakin meriah, warga yang ada diluar Desa Bongo bahkan yang ada diluar Daerah Gortontalo turut merayakan doa Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bongo, satu minggu sebelum pelaksanaanya warga yang ada diluar Desa mulai berdatangan dan bagi warga yang tidak ada kesempatan untuk menghadiri acara tersebut, hanya mengirim dana kepada keluarganya untuk dibuatkan Walima. Kue (Kukis) Kolombengi merupakan ciri khas Walima Desa Bongo dan bisa bertahan sampai satu dua bulan.
SEJARAH DESA BONGO

Sebelum abad 17, desa Bongo yang ada pada saat ini adalah kawasan pemukiman yang homogen dan religius yang wilayahnya terbagi dua, yaitu:
  1. Wilayah dataran tinggi bernama TAPA MODELO ( Sekarang Menjadi Dusun Tenilo dan Dusun Wapalo.
  2. Wilayah dataran rendah bernama TAPA HUOTA atau HUWATA (Sekarang Menjadi Dusun Timur, Dusun Dengah, dan Barat).

Pada umumnya penduduk pada saat itu sumber mata pencahariannya petani. Selain bertani masyarakatnya mempunyai adat dan kebudayaan yang sangat tinggi yang berlandaskan pada ajaran agama islam sebagai acuan dalam berkehidupan dan bermasyarakat.

Pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan serta kegiatan lainnya dilakukan di TUDULIO (dataran tinggi). Peran tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat sangat berpengaruh di masyarakat dan satu tokoh yang menjadi panutan dan berpengaruh pada saat itu bernama HILALUMO AMAY.

Pada tahun 1750 seorang Raja Gorontalo (Hulontalo) dari TAMALATE (RAJA TERNATE) mangunjungi TAPA MODELO, mengadakan pertemuan /perundingan dengan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk merumuskan kepemerintahan dan perluasan wilayah kekuasaan dan untuk delegasi TAPA MODELO dipimpin oleh HILALUMO AMAY. Dalam pertemuan/perundingan tersebut telah menghasilkan :

  1. TAPA MODELO dan TAPA HUOTA menjadi bagian dari kerajaan Gorontalo (Hulontalo) dengan nama BUBOHU
  2. HILALUMO AMAY sebagai pemimpin (RAJA)
  3. Wilayah kekuasaan meliputi Wilayah Pantai dengan batas sebagai berikut :
  • Sebelah Barat berbatasan dengan tanjung OLIMEALA (sekarang batas antara kecamatan Biluhu dengan Kecamatan Paguyamanpantai Kabupaten Boalemo)
  • Sebelah Timur berbatas dengan HULUPILO /HUNTINGO (terletak di kelurahan Pohe Kota Gorontalo).

Sebagai bukti dari keberhasilan perundingan antara RAJA TALAMATE dan BUBOHU mereka tandai dengan menanam kelapa (Bongo) dimana kelapa tersebut sudah disiapkan oleh RAJA TALAMATE sebelum perundingan, dan areal penanaman di TUDULIO dekat dengan tempat pertemuan / perundingan mereka (sekarang pohon-pohon kelapa terebut sudah mati tapi arealnya masih ada).

Kemudian sejak Gorontalo dikuasai oleh Belanda pada Tahun 1873 sampai dengan 1886 dan dengan dikeluarkanya Beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tanggal 17 April 1889 (Staadblad No. 250 Tahun 1889) tentang Retrukturisasai kekuasaan dengan menghapuskan kekuasaan, keputusan Raja-raja sudah sangat berpengaruh pada pemerintahan BOBOHU semua bukti sejarah dirusak dan diambil oleh Belanda sampai dengan rumah-rumah penduduk yang ada di Tudulio dan sekitarnya diperintahkan Belanda dibongkar sampai dengan tiangnya (Woh Hi) sejak saat itu pula penduduk dari Bubohu sudah mulai berpindah -pindah tempat dan mereka menyebar keseluruh wilayah Gorontalo, diantaranya : ke Isimu, Bongomeme, M olopatodu, Uabanga (Bone Pantai), Tapa dan Pesisir Pantai bagian Barat Gorontalo.

Bersamaan dengan dikeluarkanya Beslit tersebut diatas maka Bubohu dibagi menjadi dua wilayah, yakni dari BUOTANGA sampai dengan Tanjung OLIMEALO masuk pada ONDER AFDELING LIMBOTO dan dari BUOTANGA sampai dengan HULUPILO masuk pada ONDER AFDELING GORONTALO.

Kemudian pada Tahun 1925 terjadi perubahan Pemerintahan Kolonial Belanda berdasarkan Lembaran Negara No. 262/1925 dari BILUHU sampai dengan HUONGA masuk pada ONDER AFDELING GORONTALO dibawah Kepemerintahan Distrik BATUDAA dan dari AYUHULALO (Sekarang Desa Kayubulan) sampai dengan BUBOHU (Bongo) masuk pada ONDER AFDELING GORONTALO dibawah kepemerintahan Distrik KOTA GORONTALO.

Tahun 1902 BUBOHU menjadi satu kampung yakni kampung BUBOHU dan dipimpin oleh seorang kepala kampung dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Utara berbatasan dengan kampung Tenilo/Buliide
  • Selatan berbatasan dengan teluk Tomini
  • Timur berbatasan dengan Kampung Pohe (Dudetumo)
  • Barat berbatasan dengan Tanjung Pangatiboni

Kemudian pada tahun 1937 kampung Bubohu berubah nama menjadi kampung BONGO, tetapi tetap bergelar TI BOBOHU. Dasar pertimbangan yang diambil oleh tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat pada saat itu adalah kelapa yang ditanam yang menjadi tanda dan bukti sejarah pertemuan / perundingan antara RAJA TALAMATE dengan HILALUMO AMAY sudah di budayakan oleh penduduk secara turun-temurun sehingga berpuluh tahun kemudian kampung BUBOHU telah menjadi hamparan tumbuhan kelapa yang sangat luas dan pada masa itu perekonomian dan penghidupan masyarakat sangat tergantung dari hasil tanaman kelapa tersebut, disamping hasil pertanian yang lain. Faktor inilah yang diambil dan menjadi landasan tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menetapkan nama kampung menjadi KAMPUNG BONGO. Dan sampai tahun 1959 KAMPUNG BONGO masih tetap tergabung dengan distrik Kota Gorontalo. Setelah dikeluarkanya Undang-undang No. 29/1959 Tentang pembentukan Daerah Tingkat II Se Sulawesi, KAMPUNG BONGO telah menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Daerah tingkat II Gorontalo pada tahun 1960 dan namanya tetap DESA BONGO sampai sekarang.

Adapun nama-nama yang telah menjadi pemimpin DESA BONGO :

  1. HILALUMO AMAY tahun 1750-1792
  2. UMIHI tahun 1792-1779
  3. ISHAK tahun 1797-1815
  4. HULAO tahun 1815-1825
  5. DIALOMO tahun 1825-1840
  6. NAAKU tahun 1840-1857
  7. MOTILATIPU tahun 1857-1862
  8. HIPPY tahun 1862-1868
  9. YAINTO tahun 1868-1876
  10. MA'RUF tahun 1876-1884
  11. BOTUTIHE tahun 1884-1902
  12. ADAM tahun 1902-1903
  13. DAIPAHA tahun 1903-1904
  14. PANAI tahun 1904-1914
  15. KARNAINI tahun 1914-1915
  16. HASAN PATEDA tahun 1915-1937
  17. BUKE PANAI tahun 1937-1946
  18. ABD. RAHMAN NGGILU tahun 1946-1967
  19. BASIRU S. GANI tahun 1967-1970
  20. ABD. RAUF NGGILU tahun 1970-1974
  21. ABUBAKAR ARBIE tahun 1974-1987
  22. IBRAHIM TULULI tahun 1987-1988
  23. BAHTIAR M. YUNUS tahun 1988-sekarang.

3 komentar:

Aray Piranha mengatakan...

Bagaimana untuk tahun ini bang???

Hamzah mengatakan...

Pasti Lebih rame gimana klau dengan sejuta Kolombengi yang bung JOsep ?

Hamzah mengatakan...

Telah menjadi kalender of Event sejak penetapan Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Provinsi Gorontalo, Tahun ini dengan SEJUTA KOLOMBENGI" sebagai Desa religius pada Tahun 2004 oleh Gubernur Gorontalo Fadel Mohamad, setting acara pun secara spontan dilakukan dengan tetap didominasi durasinya oleh prosesi tradisonal yang telah turun menurun menyiapkan dan sampai pembagian WALIMAH... sebagai pernyataan rasa Syukur Masyarakat karena kecintaannya Pada Sang Nabi Pembawa Cahaya Hidup dan Kesempurnaan manusia sejati dihadapan Alkhalik. yup semarakan WALIMAH 2011 untuk Nabi Tercinta Muhammad SAW. allahuma salli ala Muhammad wala alihi wa ashabihi, wa awuladihi.Amiin